Rabu, 08 Februari 2012

Sheet Angin di PRABUMULIH

Mesin Creeper tangan,  era 80-an
 Sheet angin adalah jenis Slab dengan ketebalan antara 10-15cm. Istilah ini dikenal oleh masyarakat Prabumulih sekitar era 80-an hingga sekarang, saat itu pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertanian memberi bantuan creeper (penggiling karet berbahan besi) dengan tenaga tangan ke seluruh pelosok karet yang berada di Indonesia.

Perjalanan saya kali ini, sampai ke sebuah perkampungan yang masyakatnya mayoritas berkebun karet di wilayah Prabumulih, Palembang, Sumatera Selatan.

Kebun masyaratak nan cantik,
bersih dan rapih semula saya kira
kebun milik perusahaan perkebunan
Saat itu, saya memperkenalkan Produk Ascir-GRC yang merupakan produk dari CV.Mari Maju Sahabat, Medan dan dalam perjalanan ini saya ditemani seorang kawan bernama Pak Lubis.

Bermula dari ide bahwa ada anak kost-nya pak Lubis yang dulu pernah nge-kost di rumahnya di bilangan jalan Halat, Medan yang berasal dari Prabumulih.  Kamipun memutuskan untuk mengunjungi beliau yang bertepatan di kampungnya rata-rata pekebun karet dengan luasan yang teramat luas. Tercatat dalam 1 kampung saja bisa mencapai 800-1000 Ha kebun karet menurut pengakuan beliau, dan ini kami buktikan, bukan sekadar isapan jempol.

Keberangkatan diatur pada Juli 2010 lalu. Dengan bermodalkan silaturrahmi, kami diperkenalkan dengan keluarga beliau. Keesokan harinya, kegiatan pun di mulai.

Karet yang telah dilangsir dari kebun
Beberapa sampel Slab yang sudah dibekukan semalaman dengan Ascir-GRC 10% dengan perbandingan 1 liter formula 10% Ascir-GRC dicampurkan pada lateks murni sebanyak 20-25 liter/kg kami ambil dari kebun dan dibawa ke lokasi penggilingan. Ada sekitar 3 Slab di hari itu yang akan digiling..

Dengan senang hati dan semangat tinggi, Slab yang sudah diturunkan dari motor, tadinya memiliki ketebalan antara 20-25cm, setelah mengalami 3 kali penggilingan akan memiliki ketebalan 10-15cm. Hal ini dilakukan karena:
Ayo, Semangat!!! Giling Terus!!
  1. Faktor kebiasaan masyarakat yang memang dahulunya dianjurkan demikian oleh pemerintah.
  2. Menjadikan Bokar (bahan olahan Karet) bersih dari kontaminan (tali, tanah, tatal, dll) serta mengurangi kadar air, sehingga akan nampak kadar karet yang sebenarnya ketika terjadi transaksi/penjualan.
Setelah digiling dengan creeper tangan dan bermalam 2 hari, selanjutnya Slab/Sheet Angin siap untuk dipasarkan. Ada beberapa hal yang mengejutkan petani dan Toke/Agen/Pembeli di sana masa itu.

Yang cukup mengherankan adalah, dengan kebiasan sehari-hari yang berlaku di sana, paling-paling hanya didapati karet seberat 8-10Kg. Sedangkan Sheet Angin yang menggunakan Ascir-GRC memiliki bobot bervariasi antara 10-12Kg lebih. Di sisi lain, karet yang sedianya berbau sebagaimana yang sering kita ketahui, ini nyaris tidak berbau. Bahkan ada sebagian yang berkomentar "Kalo kami pakai Cuko biaso, 3 hari kami baru enak duduk di warung kopi, karena baunya lengket, sedangkan pakai ini (Ascir-GRC) tidak".

Sheet angin yang sudah digiling
dan di simpan 2 malam berwarna cerah
Sheet Angin yang menggunakan Ascir-GRC berwarna cerah coklat, karet yang baru disimpan dalam waktu 2 malam saja terlihat seperti karet yang telah disimpan di gudang berminggu-minggu dan sangat bersifat ulet/elastis.

Hal ini menampakkan bahwa Ascir-GRC sangat menunjang Mutu dan Kualitas, sehingga kedepannya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan Petani/pekebun karet di INDONESIA RAYA..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar